Sunday, October 1, 2017

Pelatihan kepenulisan di Hari Pancasila

Minggu 1 oktober 2017, peserta program kaderisasi ulama (PKU) angkatan XI Unida Gontor, mengisi hari kesaktian pancasila dengan kegiatan pelatihan kepenulisan. Acara ini dibimbing oleh Bahrul Ulum, contributor Majalah Hidayatullah. Acara ini dilakukan intensif selama 2 hari di gedung Hall Hotel Unida lantai 2. Diikuti oleh 66 peserta yang terdiri dari 22 putri dan 44 putra. Acara yang semula kelihatan antusias, sedikit terganggu dengan cuaca yang panas. Pendingin ruangan yang tidak bekerja dengan maksimal, membuat beberapa peserta mengantuk dan sebagian tertidur. Meskipun begitu, tugas-tugas kepenulisan yang diberikan oleh pembimbing, dikerjakan dengan baik dan lancar.

Pluralisme, Menuju Gerbang Kemanusiaan yang Jauh dari Konflik?


Oleh : Puhan Syarifudin, Lc. Dipl.
Peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) XI UNIDA Gontor

Pendahuluan

Konflik sejarah, yang paling jauh bisa dibukukan dan ditelaah berada di masa imperium romawi. Dimana saat itu kaum pagan, selalu bersinggungan dengan kaum agamis yahudi. Persinggungan ini selalu diwarnai dengan perbudakan dan ketimpangna social kemasyarakatan yang lain. Kezaliman penguasa kepada rakyatnya, kezaliman para pemangku agama kepada jamaahnya dan kezaliman penguasa penganut agama tertentu kepada agama lain yang berbeda, telah menorehkan luka traumatis yang sangat dalam bagi sebuah peradaban.
Ketimpangan social dan kezaliman yang telah berlangsung selama berabad-abad ini sedikit demi sedikit mulai terkikis. Peradaban baru yang dinamis harmonis muncul di awal abad  ke-7, yang berasal dari sebuah kota kecil di jazirah terpencil dengan struktur tanah tandus bernama Arab.

Islam dan Arab.

Tidak bisa dipungkiri lagi, jika kita membaca “islam” yang terbayang dalam kepala kita adalah wajah-wajah arab, tingkah laku dan peradabannya. Islam selalu identik dengan arab. Karena kebudayaan yang melekat pada kebudayaan islam adalah kebudayaan arab.
Jika  kita telaah lebih dekat lagi, dan memberi penilaian dengan sebuah klausul “islam lahir di lingkungan arab.” Maka, pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah, “apakah semua yang berasal dari arab itu islam?” ataukah “ semua yang islami itu selalu identik dengan perilaku bangsa arab?”
Jawaban dari pertanyaan ini sulit jika kita tidak mempelajari dahulu akar kebudayaan, cara pandang, sumber dari kebudayaan islam dan kebudayaan arab itu sendiri. Pertanyaan inilah yang selalu didengungkan untuk menggiring opini, bahwa islam adalah produk budaya bangsa arab, sehingga perilaku islami adalah selalu identik dengan perilaku bangsa arab.

Islam, Yahudi, dan Nasrani.

Jika kita melihat, identikasi islam ada pada corak perilaku bangsa arab, maka agama yang dibawa nabi Musa, selalu identik dengan bangsa yahudi. Sehingga bisa kita sebutkan bahwa peradaban yahudi, adalah peradaban Israel. Yang lebih mencengangkan lagi, Kristen yang tersebar di eropa, yang membuat peradabannya sendiri semenjak kalender Gregorian (kalender masehi) memulai perjalanan sejarahnya, justru diturunkan bukan untuk orang eropa, akan tetapi malah dturunkan kepada orang yahudi lagi. Sehingga, dalam bible umat Kristen, akan kita dapati sebuah kitab “perjanjian baru” dan “perjanjian lama.”

Kristen dan Peradaban Barat

Peradaban barat dimulai semenjak kalender Gregorian berlaku. Jatuh dan bangkit dengan warna-warna kelam penuh dengan traumatis historis yang tidak pernah terpikirkan manusia. Praktek Inquisisi yang dilakukan untuk membasmi kaum heretics (kaum kafir dan bid’ah) yang dilakukan semenjak abad ke -13 sampai akhir abad 18, adalah contoh kekejaman-kekejaman yang tak terperikan, dilakukan oleh para agamawan yang seharusnya melindungi jamaah dan membimbingnya pada jalan kebenaran dan kasih sayang.

Traumatis sejarah yang kelam inilah yang entah disadari atau tidak, menjadi momok yang menakutkan bagi pemikir barat untuk menerima ajaran-ajaran agama kembali. Kekhawatiran traumatis yang mendorong untuk menjauhi segala dogma agama, apapun bentuknya.

Peradaban modern barat, yang diawali dengan masa pencerahan (reinessance) mulai bersinar hingga kini. Kemajuan teknologi yang berkembang dengan pesat di akhir-akhir ini membuat manusia tercengang. Metode-metode penelitian dan riset selalu dikembangkan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan teknologi. Keberhasilan metode ilmiah inilah juga yang mendasari para pemikir dan teolog barat untuk mencoba mengaplikasikannya dalam penelitian pengetahuan filsafat modern.

Standar dan ukuran yang dipakai untuk penelitian adalah standar ukuran fisik rasionalis. Sehingga sesuatu yang tidak rasional dan tidak bisa diuji secara ilmiah, tidak bisa diterima sebagai sumber pengetahuan.

Dari sinilah, traumatis sejarah dan keberhasilan barat dalam mencapai kejayaannya ini menjadikan dasar sebuah pemikiran baru, pemisahan agama dalam kehidupan masyarakat, adalah satu-satunya jalan untuk mencapai kejayaan peradaban. Pemikiran ini, kita sebut sekulerisme.

Sekulerisme, liberalisme, dan pluralism.

Sekulerisme bertujuan untuk memisahkan ajaran agama dari seluruh sendi kehidupan, berdasarkan traumatis sejarah yang berlangsung selama berabad-abad. Sedangkan liberalism adalah faham yang menuntut kebebasan manusia secara mutlak, jauh dari kungkungan doktrin agama, sehingga kebebasan manusia dalam berbuat dan berkehendak menjadi tak terbatas. Tidak ada norma yang bisa menghalanginya dalam berbuat. Selama hubungan antara manusia dengan yang lain  berlandaska atas keinginan bersama, maka tidak ada standar khusus untuk menentukan nilai baik dan buruk bagi hubungan antar manusia tersebut.

Akan tetapi, wacana kehidupan dalam masyarakat, semenjak dahulu, adalah hubungan kemajemukan. Manusia adalah makhulk social yang selalu betinteraksi satu sama lain dengna saling memberikan dalam keadaan yang berbeda-beda. Keyakinan yang dianut oleh manusia dalam memahami sesuatu hal pun juga ikut berbeda-beda. Konflik antar manusia pun juga didasari dengan perbedaan ini. Klaim klaim otoritas atas kebenaran mutlak dilakukan oleh manusia untuk mempertegas status ke-Akuannya, sehingga pertentangan ego ke_akuan antar manusia inilah yang membuat kacau hubungan kemanusiaan.

Setidaknya ada 4 standar yang ada dalam sebuah agama untuk menilai benar agama yang dianut dan untuk menilai kesalahan agama lainnya.
  1. Bersifat konsisten dan berisi kebenara yang tanpa kesalahan sama sekali.
  2. Bersifat lengkap dan final,
  3. Merupakan satu-satunya jalan kebenaran.
  4. Dan keyakinan bahwa seluruh kebenaran berasal dari tuhan,

Keempat cara pandang inilah yang di sebut “cara pandang agama”

Cara pandang agama membuat manusia memandang, bahwa kebenaran yang bersumber dari agama yang dipeluknya merupakan sebuah kebenaran yang mutlak, sehingga kebenaran yang bersumber dari kebenaran agama lain merupakan sebuah kesalahan. Cara pandang ini dianggap sudah kuno dan tidak layak dipakai. Karena dengan cara pandang semacam ini akar konflik antar agama bermunculan.

Pluralism menawarkan dan mengajar semua masyarakat untuk melepas cara pandang yang sudah kuno ini, memberikan cara pandang yang baru, menarik manusia keluar dari sudut pandang agama dalam menilai sesuatu. Agama adalah objek yang sama, sehingga ketika menilai kebenaran sebuah objek, maka kita tidak bisa masuk ke dalam objek tersebut. Kita harus berpikiran bahwa, sebuah objek yang diteliti tidak boleh mengandung kebenaran yang mutlak. Kebenaran yang ada pada sebuah objek adalah kebenaran yang relative, sehingga perlu diteliti ulang, di observasi dan dibandingkan, agar didapatkan sebuah kesimpulan yang utuh, dan mengandung kebenaran yang universal.

Islam, dan relativisme kebenaran

Jika relativisme menafikan kebenaran mutlak, maka sebaliknya, islam menawarkan sebuah kebenaran mutlak yang bersumber dari kekuatan yang mutlak pula. Disebut mutlak karena ia harus siap diuji mengggunakan rasio yang benar, dengan metodologi yang pasti, dan hasilnya harus benar. Dan apabila diuji kembali. hasil dari kebenaran yang mutlak,harus berlaku sepanjang zaman.
Islam adalah satu-satunya agama di dunia yang menantang siapapun untuk menguji, apakah kebenaran yang dibawanya relative, ataukah kebenaran mutlak yang dibawa, sehinga hasil darinya adalah berlaku sepanjang zaman, dan pemeluknya dijamin keselamatannya.           
Prinsip-prinsip pluralism yang merelatifkan kebenaran mutlak. Namun, ketika diuji dengan logika yang sangat mendasar, tidak mampu untuk mempertahankan dirinya sendiri. Sehingga bisa kita peroleh kesimpulan, hakikat relativisme, adalah relative. Relativisme tidak mempunyai standar dalam menilai sebuah sesuatu. Sehingga hukum dari relativisme tidak bisa kita pakai untuk menilai sesuatu, baik-buruk, tinggi-rendah, ringan-berat, atas-bawah, dll.

Penutup

Solusi yang ditawarkan oleh penganut paham relatifitas dan pluralis dalam kehidupan bermasyarakat, ternyata tidak bisa dipakai untuk pijakan dalam menilai sesuatu. Karena menurut paham ini, hakikat kebenaran terhadap sesuatu tersebut, adalah tidak ada. Sehingga ukuran yang dipakai untuk menimbang kadar kebenaran itu pun juga tidak ada. Bagaimana kita akan menentukan salah-benar dalam hipotesa sesuatu, tanpa mempunyai ukuran yang baku tentang salah-dan benar?
Dari uraian di atas, bisa kita simpulkan bahwa, pada akhirnya paham pluralism agama tidak mempunyai standar baku dalam menilai sesuatu, sehingga paham itu juga tidak bisa menyelesaikan permasalahan. Konfik dan kerukunan antar umat manusia, bukan terletak pada teori dan filsafatnya, namun lebih kepada aplikasi keyakinan yang murni diajarkan oleh agama yang benar.

Wallahu A'lam Bisshawab.

Pelatihan kepenulisan di Hari Pancasila

Minggu 1 oktober 2017, peserta program kaderisasi ulama (PKU) angkatan XI Unida Gontor, mengisi hari kesaktian pancasila dengan kegiatan p...